Jumat, 11 November 2011

ILMU PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Pendahuluan

Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Menurut Langgulung pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).

Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori.

Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan Berketerampilan, cerdas serta pandai.

Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

B. Pendidikan Dalam Perspektif Islam

Pengertian pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan. Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Menurut Langgulung (1997), pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).

Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Para ahli pendidikan lebih menyoroti istilah-istilah dari aspek perbedaan antara tarbiyyah dan ta’lim, atau antara pendidikan dan pengajaran. Dan dikalangan penulis Indonesia, istilah pendidikan biasanya lebih diarahkan pada pembinaan watak, moral, sikap atau kepribadian, atau lebih mengarah kepada afektif, sementara pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor.

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist). Menurut Prof. Dr. Mohammad Athiyah al Abrasyi pendidik itu ada tiga macam :

1. Pendidikan Kuttab

Pendidikan ini ialah yang mengajarkan al Qu’ran kepada anak-anak dikuttab. Sebagian diantara mereka hanya berpengetahuan sekedar pandai membaca, menulis dan menghafal al Qur’an semata.

2. Pendidikan Umum

Ialah pendidikan pada umumnya, yang mengajarkan dilembaga-lembaga pendidikan dan mengelola atau melaksanakan pendidikan Islam secara formal sperti madrasah-madrasah, pondok pesantren ataupun informal seperti didalam keluarga.

3. Pendidikan Khusus

Adalah pendidikan secara privat yang diberikan secara khusus kepada satu orang atau lebih dari seorang anak pembesar kerajaan (pejabat) dan lainnya.

C. Defenisi Ilmu Pendidikan Islam

Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori, tetapi isi lain juga ada ialah :

1. Teori.

2. Penjelasan tentang teori itu.

3. Data yang mendukung tentang penjelasan itu.

Islam adalah nama Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, yang berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia ; ajaran itu dirumuskan berdasarkan dan bersumber pada al Qur’an dan hadist serta aqal. Penggunaan dasarnya haruslah berurutan :al Qur’an lebih dahulu ; bila tidak ada atau tidak jelas dalam al Qur’an maka harus dicari dalam hadist ; bila tidak ada atau tidak jelas didalam hadist, barulah digunakan aqal (pemikiran), tetapi temuan aqal tidak boleh bertentangan dengan jiwa al Qur’an dan hadist.

D. Tujuan Umum Pendidikan Manusia

1. Hakikat manusia menurut Islam

Manusia adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikembangkan didunia barat, dikatakan bahwa perkembangannya seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme) sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya (empirisme), sebagai sintesisnya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvergensi)

Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :

“Carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu tidak boleh melupakan urusan dunia “

2. Manusia Dalam Pandangan Islam

Manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani yang tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani tatkala manusia masih hidup didunia.

Manusia mempunyai aspek akal. Kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan kepada akal tidak hanya satu macam. Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan :

1. Kata Nazara, dalam surat al Ghasiyyah ayat 17 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”

2. Kata Tadabbara, dalam surat Muhammad ayat 24 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”

3. Kata Tafakkara, dalam surat an Nahl ayat 68 :

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempattempat yang dibikin manusia”.

4. Kata Faqiha, dalam surat at Taubah 122 :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

5. Kata Tadzakkara, dalam surat an Nahl ayat 17 :

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.

6. Kata Fahima, dalam surat al Anbiya ayat 78 :

“Dan ingatlah kisah daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu”.

7. Kata ‘Aqala, dalam surat al Anfaal ayat 22 :

“Sesungguhnya binatang(makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa-pun.

Manusia mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29 :

“Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kedalamnya roh-Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya”.

3. Manusia Sempurna Menurut Islam

A. Jasmani Yang sehat Serta Kuat dan Berketerampilan

Islam menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman). Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam.

Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang sempurna, yaitu menguasai salah satu ketrampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.

Para pendidik Muslim sejak zaman permulaan - perkembangan Islam telah mengetahui betapa pentingnya pendidikan keterampilan berupa pengetahuan praktis dan latihan kejuruan. Mereka menganggapnya fardhu kifayah, sebagaimana diterangkan dalam surat Hud ayat 37 :

“Dan buatlah bahtera itu dibawah pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan jangan kau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu karena meeka itu akan ditenggelamkan”.

B. Cerdas Serta Pandai

Islam menginginkan pemeluknya cerdas serta pandai yang ditandai oleh adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai di tandai oleh banyak memiliki pengetahuan dan informasi. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui indikator-indikator sebagai berikut :

a) Memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi.

b) Mampu memahami dan menghasilkan filsafat.

c) Rohani yang berkualitas tinggi.

Kekuatan rohani (tegasnya kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Karena kekuatan jasmani terbatas pada objek-objek berwujud materi yang dapat ditangkap oleh indera.

Islam sangat mengistemewakan aspek kalbu. Kalbu dapat menembus alam ghaib, bahkan menembus Tuhan. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara sungguh-sungguh. Bahkan iman itu, menurut al Qur’an tempatnya didalam kalbu.

4. Tujuan Pendidikan Islam

Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :

“ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jalal menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.

Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah.

Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :

1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.

3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

Menurut al abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi

1. Pembinaan akhlak.

2. menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat.

3. Penguasaan ilmu.

4. Keterampilan bekerja dalam masyrakat.

Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat diperinci menjadi :

1. Tujuan keagamaan.

2. Tujuan pengembangan akal dan akhlak.

3. Tujuan pengajaran kebudayaan.

4. Tujuan pembicaraan kepribadian.

Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :

1. Bahagia di dunian dan akhirat.

2. menghambakan diri kepada Allah.

3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat islam.

4. Akhlak mulia.

E. PENUTUP

Ilmu dalam perspektif Islam bukan hanya mempelajari masalah keagamaan (akhirat) saja, tapi juga pengetahuan umum juga termasuk. Orang Islam dibekali untuk dunia akhirat, sehingga ada keseimbangan. Dan ilmu umum pun termasuk pada cabang (furu’) ilmu agama.

Dan umat Islam sempat merasakan puncak keemasannya, dimana disaat bangsa Eropa mengidap penyakit hitam, umat islam sudah menemukan sabun, di saat jalan-jalan di Eropa kumuh, gelap, tidak teratur, umat islam sudah punya jalan-jalan yang indah, penerangan, bahkan sistem irigasi yang sudah maju.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001

Nur Uhbiyati., Ilmu Pendidikan Islam., CV. Pustaka Setia., Bandung, 1998

Maksudnya : Manusia yang paling buruk disisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.

Rabu, 26 Oktober 2011


KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN
Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Administrasi dan supervise pendidikan
Dosen Pengampu: Maryono, M.Pd


Di susun oleh:
Wayan bayu setiyadi

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN
JAWA TENGAH
WONOSOBO
2011

BAB 1
PENDAHULUAN

Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian ,termasuk di dalam kewibawaan,untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mau melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang rela,penuh semangat,ada kegembiraan batin serta tidak merasa dipaksa. Seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat kepemimpinan agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan, selain itu kepemimpinan sangat perlu timbal balik dengan yang dipimpin karena tanpa adanya pemimpin maka suatu kepemimpinan tidaklah akan berhasil dan juga perlunya saling berinteraksi,saling menghargai agar tidak terjadi perselisihan diantara satu sama lain.












BAB 2
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Kepemimpinan
Dalam buku “The art of leadership” Ordway Tead mengatakan:
“Leadership is the activity of influensing people to cooperaty toward some goal wich they come to find desirable”.
(kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang untuk bekerja-sama yang mana meraka mewujudkan kerjasamanya itu untuk mencapai tujuan yang diinginkan).
Herold Kontz melalui karyanya “principle of management” memberikan pengertiannya sebagai berikut:
leadership is the art coordinating and motivating individuals and group to achive desired inds”.
(kepemimpinan adalah seni atau kemampuan untuk mengkoordinasi dan menggerkan seorang individu atau kelompok ke arah pencapaian tujuan yang diharapkan).
            Dr. M. Surya mengatakan bahwa, kepemimpinan pada umumnya dapat diartiakan sebagai suatau proses guna mempengaruhi suatu kegiatan kelompok supaya teratur dalam tugasnya dan usahanya untuk merumuskan dan mencapai tujuan.
            Jadi dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian ,termasuk di dalam kewibawaan,untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mau melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang rela,penuh semangat,ada kegembiraan batin serta tidak merasa dipaksa.
Unsur pokok dalam kepemimpinan mencakup:
1.      Tujuan kepemimpinan
2.      Individu yang mempengaruhi kelompok/organisasi/lembaga (pemimpin).
3.      Individu-individu yang dipengaruhi, dikoordinasi dan digerakan (yang dipimpin).
4.      Proses interaksi antara pemimpin dan yang dipimpin dalam rangka mempengaruhi, mengkoordinasikan dan menggerakkan.
5.      Situasi berlangsungnya kepemimpinan.
Elsbree dan Reutree sebagai ahli administrasi pendidikan mengemukakan syarat-syarat bagi seorang pemimpin(pendidik) pendidikan yang baik harus memiliki:
·         Kesehatan fisik dan mental
·         Sifat-sifat personal dan sosial yang baik
·         Kecakapan intelektual
·         Latar belakang pengetahuan yang sesuai
·         Kecakapan dan sikap terhadap pengajaran dan teknik-teknik mengajar
·         Pengalaman profesional dan non-profesional
·         Potensi untuk mengembangkan profesinya

B.  Situasi Perlunya Pemimpin
Dalam keadaan biasa suatu kelompok tidak begitu merasakan perlunya pemimpin karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. Akan tetapi pada situasi lain suatu kelompok akan menyadari bahwa perlunya seseorang yang mengatur dan mengarahkan kegiatan dalm suatu organisasi.
Penyadaran tersebut timbul dalam situasi-situasi sebagai berikut:
1.      Apabila suatu kelompok menghadapi suatu masalah dan kelompok berkehendak kuat untuk menanggulanginya. Dalam keadaan ini seluruh anggota tidak mampu melakukan kegiatan tertentu dan mulai mencari individu lain yang dipandang mampu mengarahkan dan mengatur tindakan dalam memecahkan masalah yang terjadi.
2.      Apabila struktur kelompok tidak stabil, dalam keadaan ini anggota merasakan perlu ada pihak-pihak yang dapat mengembalikan stabilitas struktur kelompok.
3.      Apabila kelompok belum cukup matang untuk melaksanakan suatau hal tertentu. Keberhasilan kelompok mewujudkan keinginannya ditentukan oleh kematangan anggotanya. Dalam keadaan anggota kurang matang maka mereka memerlukan pemimpin yang dapat mematangkan semua anggota.

C.  Fungsi Kepemimpinan Pendidikan
1.      Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat baik pendapat perorangan maupun pendapat kelompok sebagai usaha untuk mendapatkan data atau bahan dari anggota kelompok untuk menentapkan keputusan yang mampu memenuhi aspirasi didalam kelompoknya.dengan demikian keputusan akan dipandang sebagai sesuatu yang patut atau tepat untuk dilaksanakan oleh setiap anggota dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
2.      Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpin sehinhga timbul kepercayaan pada dirinya sendiri dan kesediyaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dalam bekerja setiap orang mengetahui kedudukan dan fungsi masing-masing sehingga mampu memainkan peranan yang tepat dalam ikut sertamemberikan sumbangan terhadap usaha pencampaian tujuan, baik melalui perseorangan maupun proses kerja sama.
3.      Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dengan sikap harga menghargai sehingga timbul perasaan ikut terlibat didalam kegiatan kelompok dan tumbuh perasaan bertanggung jawab atas terlaksananya pekerjaan masing-masing sebagai bagian dari usaha pencapaian tujuan.
4.      Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok dengan memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengatasinya sehingga berkembang kesediyaan untuk memecahkan dengan kemampuan sendiri.       
Termasuk juga dalam hal ini adalah mendorong kemampuan anggota untuk mengatasi masalah peningkatan kesejahteraan dalam rangka menciptakan modal kerja yang tinggi.

D.  Kepemimpinan Formal dan Informal 
Kepemimpinan ada yang bersifat formal (formal leadership) yaitu kepemimpinan yang berkesimpul didalam suatu jabatan dan ada pula kepemimpinan karena pengakuan dari masyarakat akan kemampuan dari seorang untuk menjalankan kepemimpinan. Suatu perbedaan yang mencolok antara kepemimpinan yang resmi dengan yang tidak resmi (informal liedership) adalah bahwa kepemimpinan yang resmi di dalam kepemimpinannya  selalu berada diatas landasan-landasan atau peraturan-peraturan resmi, sehingga dengan demikian daya cangkupnya agak terbatas pula. Kepemimpinan tidak resmi, oleh karena kepemimpinan tersebut di dasarkan atas pengakuan dan kepercayaan masyarakat. Ukuran besar tidaknya kepemimpinan tidak resmi terletak pada tujuan dan hasil pelaksanaan kepemimpinan tersebut yang di anggap menguntungkan atau merugikan masyarakat. Walaupun seorang pemimpin ( yakni yang melaksanakan kepemimpinan ) yang resmi tidak boleh menyimpang dari peraturan peraturan yang resmi yang menjadi landasannya, akan tetapi melaksanakan kebijaksanaan peraturan peraturan memilih orang-orang yang langsung berhubungan dengan masyarakat untuk melaksanakan peraturan dan seterusnya. Kepemimpinan yang tidak resmi dapat di pergunakan pula di dalam suatu jabatan resmi dan juga dengan lebih leluasa di dalam masyarakat yang belum di liputi oleh peraturan-peraturan yang bersifat resmi. Dalam bidang yang terahir tersebut maka seorang pemimpin dapat menggerakan kekuatan kekuatan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengan kata lain kepemimpinan itu ada dua jenis:
1.      Kepemimpinan kedudukan (status leadership ) atau kepemimpinan yang berkaitan dengan suatu jabatan khusus (formal leadership) .
2.      Kepemimpinan yang menduduki suatu jabatan khusus. Di sebabkan kepemimpinan serupa itu pada umumnya muncul pada suatu proses kelompok.

E.   Sifat-sifat Pemimpin
Sifat utama dari seorang pemimpin adalah ia mampu mewujudakan interaksi dan situasi untuk memimpin dengan sebaik baiknya, adapun beberapa sifat kepemimpinan adalah sebagai berikut:
1.      Memiliki kematangan spiritual, mental, sosial dan fisik
2.      Menunjukan pribadi keteladanan
3.      Memiliki kewibawaan dan keunggulan
4.      Memiliki keuletan dan kerajianan
5.      Memiliki kejujuran
6.      Memiliki motifasi yang kuat untuk memimpin
7.      Memiliki disiplin yang kuat
8.      Memiliki identitas dan integritas diri
9.      Memiliki rasa tanggung jawab yang penuh
10.  Berjiwa merakyat
11.  Memiliki kemampuan tekhnis memimpin antara lain kemampuan dalam:
a.       Berkomunikasi baik lisan maupun tulisan baik individual maupun kelompok